Friday, 29 April 2016

TEKHNIK PEMILIHAN BIBIT KARET HASIL OKULASI

                   Tanaman karet umumnya diperbanyak secara vegetative dengan metode okulasi. Pemilihan batang atas dan batang bawah harus diperhatikan kompabilitas nya sehingga okuasi dapat berhasil. Selain itu, pemilihan batang atas dan batang bawah akan berpengaruh terhadap ketahanan tanaman terhadap cekaman lingkungan, serangan hama dan patogen, serta untuk memperoleh hasil yang optimal.






Batang bawah
Batang bawah memegang peranan yang sangat penting dalam proses okulasi. Kesalahan pemilihan dan penggunaan batang bawah dapat menurunkan produksi hingga 40%. Batang bawah ditumbuhkan dari biji. Biiji dapat berasal dari kebun biji yang kedua induknya diketahui atau juga berasa dari kebun produksi yang dirawat dengan baik. Biji yang digunakan sebagai calon batang bawah adalah biji yang minimal salah satu induknya diketahui. Biji sapuan tidak dianjurkan karena kedua pohon induknya tidak diketahui secara jelas. Pohon yang sudah berumur 15-25 tahun menghasilkan biji yang memiliki daya kecambah optimal. 









Batang yang bawah harus memiliki daya tumbuh yang baik, kompatibel dengan batang atas, berpengaruh positif terhadap pertumbuhan dan hasil batang atas, memiliki sistem perakaran yang baik dan tahan terhadap angin serta organisme pengganggu akar.

Saat ini biji yang dianjurkan untuk batang bawah berasal dari klon GT 1, AVROS 2037, BPM 24 dan PB 260. Tanaman untuk batang bawah ditanam 1-1,5 tahun sebelum okulasi dan garis tengah batang bawah harus sudah mencapai 2 cm. 

Batang atas
Batang atas berkorelasi langsung dengan hasil lateks yang diperoleh. Selain berkorelasi langsung dengan hasil sadapan, batang atas juga berkaitan dengan ketahanan terhadap penyakit, angin, dan kemampuan kulit dalam meregenerasi bekas sadapan. Klon-klon anjuran yang dapat digunakan sebagai barang atas antara lain GT 1 dan AVROS 2037.

Batang atas/entres harus berasal dari kebun yang sudah diketahui dengan jelas asal usulnya. Umumnya, entres diperoleh dari kebun entres. Kebun entres seharusnya sudah menjamin kemurnian asal bahan entres. Mata entres dari kebun entres memiliki beberapa kelebihan diantaranya adalah menghasilkan tanaman yang pertumbuhannya seragam, memiliki ketahanan terhadap serangan hama dan pathogen, serta memiliki produksi yang tinggi. 

Pemupukan di kebun entres sangat diperlukan guna memperoleh pertumbuhan kayu okulasi yang baik dan memiliki banyak tunas sehingga dapat menyediakan entres tidak hanya dari segi kualitas tetapi juga dari segi kuantitas.

Setelah batang atas dan batang bawah didapatkan, selanjutnya proses okulasi yang akan berpengaruh terhadap keberhasilan pembibitan dan budidaya tanaman karet secara umum.
Secara umum terdapat tiga jenis bibit hasil okulasi. Ketiganya adalah stum mata tidur, stum mini, dan bibit polybag.

1. Stum mata tidur
Stum mata tidur merupakan bibit hasil okulasi yang mata okulasinya belum tumbuh. Untuk bibit stum mata tidur yang berumur kurang dari 1 tahun, panjang akar tunggang yang ideal adalah 45-50 cm dan akar lateralnya 3-5 cm. Stum mata tidur yang berumur 1-2 tahun, panjang akar tunggang ideal adalah 50-60 cm dan akar lateralnya 5-7 cm. Pembongkaran/pencabutan bibit merupakan salah satu bagian paling penting dan krusial dalam mendapatkan bibit stum mata tidur.







2, Stum mini
Stum mini merupakan bibit stum mata tidur yang ditumbuhkan terlebih dahulu di pembibitan selama 6-8 bulan sebelum pembongkaran. Stum mini memiliki lebih banyak mata tunas daripada stum mata tidur. Setelah okulasi dinyatakan berhasil, dilakukan pemotongan setinggi 5-7 cm di atas tempelan okulasi. Mata okulasi dibiarkan tumbuh dan dipelihara di pembibitan hingga 6-8 bulan. Pada saat berumur 6-8 bulan tersebut tanaman sudah memiliki batang yang berwarna coklat setinggi 50 cm dan berdiameter 2 cm. Selanjutnya dipotong pada ketinggian 50 cm atau sekitar 3 cm di atas karangan mata/bekas tangkai daun. Dua minggu setelah dilakukan pemotongan, bibit baru bisa dibongkar/dicabut. Pencabutan dengan menggunakan cangkul seperti pencabutan pada stum mata tidur. Akar tunggang dan akar lateral masing-masing disisakan 40 dan 5 cm baru kemudian dapat ditanam di lahan pertanaman.






3. Bibit dalam polybag
Bibit polybag merupakan bibit okulasi yang ditumbuhkan di dalam polybag. Bibit polybag memiliki satu atau dua payung baru setelah itu dapat ditanam di lapangan. Bibit dalam polybag dapat berasal dari stum mata tidur atau batang bawah yang diokulasi dalam polybag (okulasi dini dan okulasi hijau). Ukuran polybag yang digunakan adalah 45 x 30 cm atau ukuran 40 x 12,5 cm dan sebaiknya berwarna hitam.







Wednesday, 27 April 2016

ANATOMI DAN FISIOLOGI ORGAN REPRODUKSI TERNAK BETINA

       Secara anatomis alat kelamin ternak betina dapat dibagi menjadi 3bagian yaitu;

 1,Gonad atau ovarium,merupakan alat kelamin yg utama dan menghasilkan ovum.

 2.Saluran reproduksi betina terdiri dari,oviduct(tuba fallopii)uterus dan vagina.

 3.alat kelamin bagian luar,klitoris,dan vulva,

     pada bangsa burung ,organ reproduksinya berbeda dengan hewn menyusui,dimana ovarium sampai ke uterus hanya satu,yaitu sebelah kiri saja yg berkembang,sedangkan yg sebelah kanan tidak berkembang.
        pada hewan menyusui orium dan saluran reproduksinya terpisah,tetapi keduanya bergabungdalam ruang abdomen.
   







                     OVARIUM
bentuk ovarium berpariasi tergantung pada jenis hewan,dan ukuran ovarium tergantung pada umur  dan masa reproduksi ternak tersebut.
ovarium  Merupakan alat kelamin betina yang bertanggung jawab atas diferensiasi dan pelepasan oosit matang untuk fertilisasi dan perkembangbiakan dari spesies. Ovarium juga sebagai organ endokrin yang memproduksi hormon steroid yang memungkinkan berkembangnya ciri-ciri seksual betina sekunder dan mendukung kebuntingan Pada umumnya, ovarium terdapat dua buah, yaitu kanan dan kiri yang terletak di dalam rongga pelvis.Strukturnya oval, Ovarium tidak terikat dengan tuba falopii dengan saluran telur yang terbuka ke arah fimbrae,

                                         OVIDUCT(TUBA FALLOPI)
       
                       Oviduct atau tuba fallopi yang juga disebut tuba uterine adalah saluran  yang berpasangan dan berkonvolusi yang menghantarkan ova dari ovarium menuju tanduk uterus, dan juga merupakan tempat terjadinya fertilisasi oleh spermatozoa (Frandson, 1986).

Tuba uterina bersifat bilateral, strukturnya berliku-liku yang menjulur dari daerah ovarium ke kornua uterina dan menyalurkan ovum, spermatozoa, dan zigot. Tiga segmen oviduk dapat dibedakan menjadi infundibulum, ampula, isthmus.

Epitel tuba uterina berbentuk silinder sebaris atau silinder banyak lapis dengan silia aktif. Baik sel tipe bersilia maupun tidak bersilia dilengkapi dengan mikrovili.

Mukosa langsung berhubungan dengan submukosa karena lamina muskularis mukosa tidak ada. Pada tuba uterina, propia submukosa terdiri dari jaringan ikat longgar dengan banyak sel plasma, sel mast dan leukosit eosinofil. Tunika mukosa submukosa pada ampula membuat lipatan tinggi terutama pada babi dan kuda betina.

Tunika muskularis terutama terdiri dari berkas otot polos melingkar, memanjang dan miring. Lapis otot tersebut memberikan jalur radial memasuki mukosa. Pada infundubulum dan ampula, tunika muskularis yang tipis dan tersusun oleh lapis dalam melingkar. Tunika serosa ada dan terdiri dari jaringan mengandung pembuluh darah dan saraf. (Brown, 1992 )

Tuba fallopi sapi betina  merupakan satu pasang saluran yang berkelok-kelok dan berjalan dari ovarium ke bagian sempit cornua uteri. Panjangnya rata-rata 12,4 cm pada anak sapi, 20,4 pada sapi dara, 24,5 pada sapi tua. Kisaran panjang dari tuba fallopi yaitu 20-35 cm. Tuba fallopi memiliki garis tengah terkecil kira-kira mulai dari bagian pertengahan pembuluh sampai titik terdekat persambungan dengan cornua uteri (Nuryadi, 2010).


 Oviduct    merupakan saluran yg menghubungkan ovarium dan uterus,saluran ini berfungsi;
menerima sel telur pembuahan/ fertilisasi.
              Uterus terbagi atas;-cornu uteri


                                             

  -korpusuteri
  -cervix uteri

              Bentuk -bentuk uterus
a.Uterus duplex,servix ada dua buah.

b.Uterus bikornis,
                      servix hanya satu,korpus uter  sangat pendek.

       fungsi uterus antara lain;
1.Menghasilkan cairan uterus.
2.Kapasitasi spermatozoa,
3.Menghasilkan progesteron.
4.sebagai tempat perkembangan embrio.
5.Transportasi spermatozoa.

                                            SERVIX
 Serviks atau leher rahim merupakan bagian dari alat reproduksi yang berdinding tebal dengan panjang 5-10 cm, pada dinding serviks terdapat empat buah lekukan yang apabila kedua buah dinding seviks saling bertemu maka akan saling mengunci dengan rapat. Dinding serviks akan saling mengunci rapat kecuali pada saat ternak birahi atau melahirkan.                  

Serviks atau leher uterus mengarah ke kaudal menuju ke vagina. Serviks merupakan sphincer otot polos yang kuat, dan tertutup rapat, kecuali pada saat terjadi birahi atau pada saat kelahiran. Pada saat birahi Serviks agak relaks sehinggga memungkinkan spermatozoa untuk memasuki uterus. Pada saat tersebut bukan tidak mungkin Serviks akan mengeluarkan mukus yang kemudian mengalir ke vulva. Peningkatan jumlah mucus juga diproduksi oleh sel-sel goblet pada serviks selama kebuntingan, guna mencegah masuknya zat-zat yang membawa infeksi dari vagina ke dalam    uterus,
Servix terletak diantara corpus dan vagina,fungsi servix adalah menutupi lumen utterus, sehingga mikroorganisme tidak bisa masuk ke dalam uterus.

                                          VAGINA

        Vagina  Terbagi atas vestibulum
  ,yaitu bagian sebelah luar yg berhubungan dengan vulva.dan  portio vaginalis cervix yaiitu bagian sebelah cervix.
Merupakan saluran kelamin betina yang berfungsi sebagai tempat penumpahan semen. Vagina juga merupakan jalur pengeluaran fetus dan plasenta pada saat partus.
     Vagina adalah bagian saluran peranakan yang terletak di dalam pelvis di antara uterus (arah kranial) dan vulva (kaudal). Vagina juga berperan sebagai selaput  yang menerima penis hewan jantan pada saat kopulasi. Membran mukosa dari vagina adalah epitel squamosa berstrata yang tak berkelenjar. Pada bagian vagina sapi tersebut permukaannya tidak mengalami kornifikasi, kemungkinan karena rendahnya tingkat sirkulasi estrogen (Frandson, 1986).

Vagina terletak horisontal di ruang pelvis, dimulai dari cervix uteri sampai vulva. Berbentuk tubulus sepanjang 15-20cm, dengan diameter 10-12 cm apabila diregang. Di bagian cranial dari vagina terdapat fornix vaginae yang merupakan kantong yang dibentuk oleh portio vaginalis uteri. Di bagian caudal vagina berhubungan dengan vulva. Vagina sapi lebih panjang daripada kuda, juga dindingnya lebih tebal. Panjangnya 20-35 cm. Di dinding ventral, diantara tunika muscularis dan selaput lendir terdapat 2 buah saluran Gartner yang bermuara di posterior orificium urethrae externum. Saluran Gartner adalah sisa embrional dari duktus Wolfii (Aswin, 2009)

Dinding vagina memiliki tiga lapis : tunika mukosa-submukosa, tunika muskularis dan tunika adventisia atau serosa. Mukosa vagina memiliki epitel pipih banyak lapis yang meningkat tebalnya selama praestrus dan estrus.

ANATOMI DAN FISIOLOGI ORGAN REPRODUKSI TERNAK JANTAN

   
Sistem reproduksi jantan terdiri dari testis yang dikelilingi tunika vaginalis dan selubung testisepididymisduktus deferen, kelenjar aksesori (kelenjar vesikulosa, prostat danbulbouretralis), urethra, dan penis yang dilindungi oleh prepusium.
Fungsi alamiah seekor hewan jantan adalah menghasilkan sel-sel kelamin jantan atau spermatozoa yang hidup, aktif dan potensial fertil, dan secara sempurna meletakakannya ke dalam saluran kelamin betina          






  Secara anatomik alat kelamin jantan di bagi atas 3 bagian besar  yaitu;
            
  1.Gonad atau testes,dimana gonad merupakan alat kelamin utama.
           
  2.Saluran reproduksi,Dimana saluran ini terdiri atas;Epidydimis,Vas deferens dan  Uretra.
               
  3.Alat kelamin bagian luar yaitu;                     
 -penis sebagai kopulasi,penyalur mani dan urine yang dibungkus   prepotium.
   -Skrotum.

TESTES






    

 Bentuk testes bulat,panjang dengan sumbuh memanjang kearah vertikal.
 dari testis yang dikelilingi tunika vaginalis dan selubung testisepididymisduktus deferen, kelenjar aksesori (kelenjar vesikulosa, prostat danbulbouretralis), urethra, dan penis yang dilindungi oleh prepusium Testis adalah organ reproduksi primer pada ternak jantan, sebagaimana halnya ovarium pada ternak betina. Testis dikatakan sebagai organ primer karena berfungsi menghasilkan gamet jantan (spermatozoa), Tahapan spermarogenesis meliputi spermatogonium,spermatositprimer, spermatosit skunder, spermatid muda, dan spermatid matang
     Testis dibungkus oleh kapsul putih mengkilat (tunica albuginea) yang banyak mengandung serabut syaraf dan pembuluh darah yang terlihat berkelok-kelok. Di bawah tunica albuginea terdapat parenkim yang menjalankan fungsi testis. Parenkim membentuk saluran yang berkelok-kelok (Frandson, 1992). Secara sentral, septula testis berlanjut dengan jaringan ikat longgar darimediastinum testis. Kuda jantan, mediastinum testis terbatas pada kutub kranial testis, tetapi pada hewan piaraan umumnya menempati posisi sentral. Jaringan ikat yang mengisi ruang intertubular mengandung pembuluh darah dan limfe, fibrosit, sel-sel mononuklear bebas dan sel interstisial endokrin (sel Leydig) (Dellman, 1992).
     besar testes di tergantung pada umur,jenis sapi dan kondisi makanan.

                      Fungsi testes antara lain;

                  a.menghasilkan sel kelamin jantan (spermatozoa)
                  b.menghasilkan hormon kelamin jantan,androgen/ testosteron

                      EPIDYDIMIS
         Epididymis merupakan pipa panjang dan berkelok–kelok yang menghubungkan vasa eferensia pada testis dengan ductus deferens.               
 Epidydimis                 Terdiri dari;
               
                  1.bagian kepala(caput epidydimis)
                   2.bagian badan(corpus epidydimis)
                   3.bangian ekor(cauda epidydimis)
     
Fungsi epidydimis adalah sebangai transportasi, konsentrasi,pemasakan/ pendewasaan dan tempat sementara timbunan spermatozoa.
      Spermatozoa di dalam Epididymis mengalami beberapa proses pematangan, seperti mendapat kemampuan untuk bergerak. Epididymis merupakan saluran reproduksi yang amat penting, karena saluran sangat menentukan kemampuan fertilitas sperma yang dihasilkan. Adapun fungsi pokok Epididymis adalah alat transfor, pendewasaan, penimbunan sperma dan sekresi cairan Epididymis. Sperma melewati Epididymis berkisar antara 9 sampai 13 hari yang dialirkan oleh cairan testis, aktivitas silia epitel dari duktus deferens dan oleh kontraksi otot dinding saluranEpididymis. Bagian cauda epididymis nampaknya merupakan organ khusus untuk penimbunan sperma , karena sekitar 75% dari total sperma Epididymis berada dibagian ini dan kondisi lingkungannya memberikan kemampuan fertilitas yang lebih tinggi dibanding dibagian lain. Sperma yang berasal dari bagian cauda Epididymis memberikan persentase kebuntingan 63% dan lebih tinggi dibanding sperma yang berasal dari bagian caput Epididymis yang hanya 33,33%                   

  SCROTUM
                     Scrotum adalah kantong testes yg berfungsi mengatur temperatur testesdan epidydimis supaya tetap bertemperatur lebih rendah dari tubuh normal, dan melindungi testes dari pengaruh luar secara langsung.
Kelenjar -kelenjar pelengkap
            
·         kelenjar vesikularis,yg menghasilkan cairan agak kental lengket yg berfungsi membri makanan,menambah volume dan mengatur semen.
·         kelenjar prostata,pd sapi jumlahnya sepasang,bentuk bulat dan jauh lbih kecil di bandingkelenjar vesikularis.
·         kelenjar cowper,bentuknya bulat dan biasanya terlihat adanya tetesan-tetesan cairan daripenis yg berfungsi membersihkan urethra dari sisa-sisa urine.
Urethra
             Urethra adalah saluran yg berfungsi ganda yaaitu sebagai saluran urine dan saluran mani(sperma)terbentang dri vasdeferens sampai ke ujung penis.
        Penis mempunyai 2fungsi yaitu
1.       menyemprotkan semen kedalam alat reproduksi betina,dan untuk saluran perkemihan.
2.       praeputium berasal dari kulit yg berfungsi melindungi penis dari penngaruh luar dan kekeringan.

Spermatogenesis      
           pembentukan spermatozoa dinamakan spermatogenesis,yang terdiri dari 3 tahap yaitu;
1.spermatocytogenesis
       disebut juga tahap memperbanyak,pada fase ini terjadi pembelahan mitosis beberapa kali dan
       hasil akhirnya spermatosit 1.
2.miosis
         spermatosit 1 akan mengalami miosis beberapa kali dan hasil akhirnya spermatid yg bentuknya          telah memiliki ekor yg kecil.
3.spermiogenesis
         
              pada tahap ini spermatid akan menjadi spermatozoa melalui 4 fase ;fase golgi,fase mantel,fase acrosom daan faase pematangan.
            spermatozoa dihasilkan terus menerus dan di cadangkan dalam epidydimis.

JENIS-JENIS PENYAKIT AYAM BESERTA GEJALA-GEJLA NYA

            Penyakit pada ternak dapat menimbulkan kerugian ekonomi yang cukup besar bagi peternak khususnya dan masyarakat luas pada umumnya,penyakit ini tidak hanya untuk hewan,
 tetapi penyakit ini bisa menular pada manusia atau di sebut dengan penyakit menular(zoonosis)
   Adapun penyakit yang sering menyerang ayam( unggas) antara lain;

Kalibasilosis
   Penyakit ini selalu muncul hampir tiap periode pemeliharaan. Tidak seperti beberapa penyakit lain yang menyerang unggas disaat musim penghujan dan kemarau. Penyakit ini tidak mengenal musim. Umumnya penyakit ini akan muncul berkaitan dengan lokasi dan lingkungan peternakan terutama masalah kebersihan. Namun penyakit ini dapat juga muncul dari penetasan telur yang telah terkontaminasi. Akibatnya anakan unggas khususnya ayam memiliki tingkat kematian yang cukup tinggi. Hal ini disebabkan pertumbuhan bakteri E. Coli yang berkembang pesat.










Gejala atau Tanda-Tanda  Kolibasilosis Adalah :
-Nafsu makan menurun
-Lebih banyak diam dan tidak bergerak serta murung
-Terjadi pembengkakan pada muka (Beberapa unggas)
-Pertumbuhan tergganggu pada anakkan, sedangkan pada unggas dewasa menurunkan produktivitas
Bulu terlihat acak-acakan
-Kotoran terlihat encer dan berwarna hijau serta menempel disekitar pantat
         
Pencegahan dan Pengendalian

Pencegahan dan pengendalian serangan bakteri E. Coli dapat dilakukan dengan memperbaiki biosecurity seperti memperbaiki sirkulasi udara (ventilasi) pada kandang agar tercipta udara yang sehat dan bersih.  Ketersediaan air yang bersih sejak DOC masuk kandang dan hingga panen. Menjaga kebersihan dan kualitas pakan.

Snot/Coryza
Disebabkan oleh bakteri Haemophillus gallinarum. Penyakit ini biasanya menyerang ayam akibat adanya perubahan musim.















Adapun gejala penyakit Snot pada ayam adalah sbb:
-ayam terlihat mengantuk, sayapnya turun
-keluar lendir dari hidung, kental berwarna kekuningan dan berbau khas
-muka dan mata bengkak akibat pembengkakan sinus infra orbital
terdapat kerak dihidung
-napsu makan menurun sehingga tembolok kosong jika diraba
-ayam mengorok dan sukar bernapas
-pertumbuhan menjadi lambat.

Berak Kapur atau Pullorum

Berak kapur disebabkan oleh bakteri Salmonella pullorum. Berak kapur sering ditemukan pada anak ayam umur 1-10 hari.
 









Gejala yang timbul adalah :
-napsu makan menurun
-kotoran encer dan bercampur butiran-butiran putih seperti kapur
-bulu dubur melekat satu dengan yang lain
-jengger berwarna keabuan
badan anak ayam menjadi menunduk
-sayap terkulai
-mata menutup

Berak Hijau
Penyebab penyakit ini belum diketahui secara pasti, demikian pula pengobatannya. Selama ini penyakit ini diduga disebabkan oleh bakteri sejenis Salmonella pullorum. Penularan berak hijau  sangat mudah yaitu melalui kontak langsung termasuk saat jantan mengawini betina dan melalui pakan dan minuman yang terkontaminasi dengan ayam yang sakit. Pengaruh penyakit ini dapat sampai ke DOC keturunan induk yang sakit.









Gejala penyakit ini adalah:
-jengger berwarna biru
-mata lesu
-napsu makan menurun
-sekitar pantat terlihat memutih dan lengket.

Kolera
Penyebab penyakit ini adalah bakteri Pasteurella gallinarum atau Pasteurella multocida. Biasanya menyerang ayam pada usia 12 minggu. Penyakit ini menyerang ayam petelur dan pedaging. Serangan penyakit ini bisa bersifat akut atau kronis. Ayam yang terserang kolera akan mengalami penurunan produktivitas bahkan mati. Bakteri ini menyerang pernapasan dan pencernaan.








Kolera dapat ditularkan melalui kontak langsung, pakan, minuman, peralatan, manusia, tanah maupun hewan lain. Pada serangan akut, kematian dapat terjadi secara tiba-tiba.

Sedangkan pada serangan kronis didapatkan gejala sbb:
-napsu makan berkurang
-sesak napas
-mencret
-kotoran berwarna kuning, coklat atau hijau berlendir dan berbau busuk
-jengger dan  pial bengkak serta kepala berwarna kebiruan
-ayam suka menggeleng-gelengkan kepala
persendian kaki dan sayap bengkak disertai kelumpuhan
lesi yang didapatkan pada unggas yang mengalami kematian pada kolera akut antara lain adalah :
- perdarahan pintpoint pada membran mukosa dan serosa dan atau pada lemak abdominal
- inflamasi pada 1/3 atas usus kecil
- gambaran “parboiled” pada hati
- pembesaran dan pembengkakan limpa
- didapatkan material berbentuk cream atau solid pada persendian

Chronic Respiratory Disease (CRD) / ngorok / Air Sac / Sinusitis 
Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Mycoplasma galisepticum. Biasanya menyerang ayam pada usia 4-9 minggu. Penuluaran terjadi melalui kontak langsung, peralatan kandang, tempat makan dan minum, manusia, telur tetas atau DOC yang terinfeksi.

Seorang penulis menyebutkan bahwa gejala CRD ini mirip dengan Snot atau Coryza yaitu:
-batuk-batuk
-napas berbunti atau ngorok
-keluar cairan dari lubang hidung
-nafsu makan turun
-produksi telur turun
-ayam suka menggeleng-gelengkan kepalanya

Colibacillosis 
Penyebab penyakit ini adalah Escherichia coli. Problem yang ditimbulkan dapat infeksi akut berat dengan kematian yang tiba-tiba dan angka kematian yang tinggi hingga infeksi ringan dengan angka kesakitan dan kematian yang rendah.infeksi dapat terjadi pada saluran pernapasan, septicemia atau enteritis karena infeksi pada gastrointestinal. Penyakit ini dapat berdiri sendiri atau diikuti oleh infeksi sekunder. Infeksi sekunder yang menyertai penyakit ini adalah Mycoplasma gallisepticum. Semua umur dapat terkena penyakit ini, namun yang paling banyak adalah ayam usia muda.

Gejala yang ditimbulkan pada penyakit ini disebabkan oleh toksin yang dikeluarkan oleh bakteri akibat pertumbuhan dan multiplikasi. Invasi primer terjadi pada system pernapasan dan system gastrointestinal. Omphalitis atau infeksi pada anak ayam terjadi karena penutupan tali pusat yang kurang baik atau karena invasi bakteri melalui cangkang telur pada saat inkubasi.

Berikut ini gejala yang timbul pada penyakit ini adalah:
-napsu makan menurun
-ayam lesu dan tidak bergairah
-bulu kasar
-sesak napas
-kotoran banyak menempel di anus
-diare
-batuk

Penyakit Pada Ayam Karena Infeksi Viral

Tetelo / Newcastle Disease (ND) / Sampar Ayam / Pes Cekak
ND merupakan infeksi viral yang menyebabkan gangguan pada saraf pernapasan. Penyakit ini disebabkan oleh virus Paramyxo.








Gejala yang nampak pada ayam yang terkena penyakit ini adalah sebagai berikut:
-excessive mucous di trakea
-gangguan pernapasan dimulai dengan megaop-megap, batuk, bersin dan ngorok waktu bernapas
-ayam tampak lesu
-napsu makan menurun
-produksi telur menurun
-mencret, kotoran encer agak kehijauan bahkan dapat berdarah
-jengger dan kepala kebiruan, kornea menjadi keruh, sayap turun, otot tubuh gemetar, kelumpuhan hingga gangguan saraf yang dapat menyebabkan kejang-kejang dan leher terpuntir.

Gumboro / Infectious Bursal Disease
Penyakit ini menyerang kekebalan tubuh ayam, terutama bagian fibrikus dan thymus. Kedua bagian ini merupakan pertahanan tubuh ayam. Pada kerusakan yang parah, antibody ayam tersebut tidak terbentuk.









 gumboro biasanya menyerang anak ayam pada usia 2 – 14 minggu dengan gejala awal sbb:
-napsu makan berkurang
-ayam tampak lesu dan mengantuk
-bulu tampak kusam dan biasanya disertai dengan diare berlendir yang mengotori bulu pantat
-peradangan di sekitar dubur dan kloaka.biasanya ayam akan mematoki duburnya sendiri.
-jika tidur, paruhnya menempel di lantai dan keseimbangan tubuhnya terganggu.

Bronchitis / Infectious Bronchitis
Penyakit ini disebabkan oleh Corona virus yang menyerang system pernapsan.








Gejala penyakit IB ini sangat sulit untuk dibedakan dengan penyakit respiratory lainnya. 
       ciri -ciri ayam yang terkena penyakit Bronchitis antara lain;
-batuk
-bersin-bersin
-rattling
-susah bernapas
-keluar lendir dari hidung
-terengah-engah
-napsu makan menurun
-gangguan pertumbuhan

Cacingan / Worm Disease / Cacingan pada ayam
     
   Timbulnya penyakit ini diakibatkan oleh parasit, yaitu cacing (helminthiasis) yang penyebarannya terjadi pada pakan yang telah tercemar, manajemen kandang yang kurang baik.
     ciri-ciri ayam cacingan adalah sbb;
-tubuh ayam menjadi kurus
-nafsu makan berkurang
-sayap kusam dan terkulai
-kotoran encer, berlendir berwarna keputihan dan kadang berdarah
-pertumbuhan lambat

Hal yang terpenting dalam usaha peternakan ayam antara lain
" LAKUKAN VAKSINASI PADA AYAM " secara Teratur.
"Sanitasi dan kebersihan kandang ayam harus di jaga
"Pemberian vit, secara teratur

Tuesday, 26 April 2016

SYARAT-SYARAT INDUK SAPI DALAM PROGRAM TWINNING

           Salah satu terobosan dalam upaya untuk meningkatkan produksi ternak sapi adalah dengan penggunaan teknologi pengembangan sapi beranak kembar (twinning technology). Teknologi produksi sapi kembar memberikan paradigma baru dalam usaha pengembangan ternak sapi yang memberikan peluang untuk meningkatkan efisiensi reproduksi dan efisiensi ekonomi usaha.   .Secara alamiah peristiwa kelahiran sapi kembar memang sangat jarang terjadi. Peristiwa ini sudah diamati oleh para ahli lebih dari lima dekade yang lalu. Dilaporkan bahwa frekuensi kelahiran kembar dari berbagai ras sapi, berkisar antara 0,5 sampai 9%. Kemungkinan terbesar kelahiran kembar adalah pada Sapi Brown Swiss dengan frekuensi kelahiran kembar 2,7-8,9%. Sedangkan pada sapi potong frekuensi kelahiran kembar hanya 0,5 dan pada sapi perah 1%.


                                                       gambar sapi hasil twinning






Ada empat cara yang dapat menyebabkan sapi lahir kembar. Pertama dengan cara seleksi, yaitu sapi keturunan kembar dikawinkan dengan sapi yang kelahiran kembar. Cara ini memerlukan waktu yang lama untuk meningkatkan frekuensi kelahiran kembar. Kedua secara genetik, dengan deteksi ada tidaknya gen kembar. Baik jantan maupun betina, keduanya harus punya gen kembar. Ketiga dengan cara manipulasi reproduksi, supaya bisa menghasilkan lebih dari 1 telur dan baik untuk dibuahi. Keempat dengan cara merangsang sapi supaya bisa ovulasi lebih dari satu, yaitu dengan pemberian pakan dengan kandungan mineral, vitamin dan protein tinggi supaya gizinya bagus.         Teknologi produksi sapi kembar akan dapat mengurangi kebutuhan waktu, tenaga dan biaya dalam upaya peningkatan populasi ternak sapi dan pendapatan petani peternak (Echternkamp, 1992)Twinning adalah program fetus kembar, tujuan dari program ini adalah untuk memaksimalkan hasil produksi beranak dari induk sapi. Tetapi tidak semua induk sapi dapat dilakukan program ini, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi untuk menjamin keberhasilan program Twinning ini yaitu:

-Induk sapi harus memiliki kondisi reproduksi yang baik, dan mempunyai catatan birahi yang normal dan tidak gagal lebih dari 2 kali waktu melakukan penyuntikan
-Sapi Dara dan induk sapi harus memiliki umur tidak lebih dari 7 tahun atau maksimal 7 tahun
-Performa tubuh baik dengan BCS 2,75 - 3,25 pada skala 5 untuk sapi perah dan BCS 5-6 pada skala 9 untuk sapi potong dan kerbau
-Tidak pernah terjangkit penyakit menular
-Terdapat Cl fungsional setelagh dilakuakan pemeriksaan palpai rekt
-Berada pada kawasan Village Breeding Center (VBC) dengan sistem monitoring insetif, hal ini untuk memudahkan ternak tidak pernah melakukan kawin alam.





 Kelahiran sapi kembar ini tentunya sangat bermanfaat terhadap peningkatan populasi sapi di Indonesia. Sapi kembar ini berpeluang meningkatkan ketersedian daging dan produksi sapi di Indonesia, Banyak hal yang dapat dilakukan untuk meningkatkan efisiensi reproduksi terutama melalui penerapan bioteknologi atau mengembangkan teknologi praktis dan praktek-praktek manajemen yang dapat meningkatkan efisiensi reproduksi.